Aku berdiri sambil memeluk buku tebal, sesekali aku terduduk disebuah bangku di depan sekolahku. Bahuku terasa sakit sekali, karena terlalu banyak buku-buku pelajaran yang tebal didalam tasku. Kulihat kearah kiri dan kanan, menunggu bundaku disini. Perkenalkan namaku Najwa yasmin sihab, umurku baru tujuh tahun, dan aku anak bungsu dari empat bersaudara. Kakak-kakakku sudah dewasa semua, yah… sekarang tinggal aku yang kecil sendirian. Hemh… aku tersenyum lebar melihat bundaku tiba, seperti biasa bunda langsung memelukku dan mencium pipiku sambil bertanya, “Dapat berapa nilainya tadi dek ?” aku hanya tersenyum dan tidak mau jawab apa-apa.

            Kelas satu SD, di sekolah dasar ternama di kota ini. Banyak tuntutan untuk belajar agar bisa jadi anak yang pintar, agar bisa juara kelas, dan yang paling utama agar bisa dibelikan sepeda baru oleh ayah dan bunda. Karena hanya itu target ku belajar saat ini, bukan karena hal lainnya. Aku tertawa saat melihat nilai ulanganku dapat nilai empat, diam-diam aku menyembunyikan kertas ulangan ini. Aku berharap bunda tidak tahu dengan kejadian ini, kalau seandainya tahu aku pasti bisa dimarahin habis-habisan, hemh… bundaku itu paling cerewet sedunia, aku menggumpal kertas itu sambil menaruhnya didalam lemari belajar.

            Pelajaran kami di sekolah seperti pelajaran kakak-kakakku, aku serba bingung mau mengerjakan semua tugas yang menumpuk, karena itulah aku selalu malas untuk mengerjakan pekerjaan rumah dari guruku. Semuanya tidak masuk kedalam otakku, semuanya kacau, semuanya itu tuntutan agar aku bisa jadi anak yang pintar, tapi ? apa guru-guru di sekolah merasakan apa yang aku rasakan ? semua ini terlalu susah untuk aku kerjakan. Contohnya saja buku ini, huft… aku menghela nafas panjang melihat buku tebal bahasa inggris, change the picture ??? aku menggaruk-garuk kepalaku melihat kata itu. Buku ini terlalu aneh untuk aku pelajari, aku tidak paham maksudnya. Aku mulai emosi dengan ini, dan hal pertama yang aku lakukan adalah… “Kak ayiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii” teriakku sangat keras memanggil kakakku yang nomor dua. Kemudian dia datang menghampiriku, “Kenapa dek ?” ucapnya dengan datar. Wajahku yang cemberut langsung menunjuk kearah buku bahasa inggrisku. Kak ayi pun sudah memahami maksudku. Aku tertawa lebar. Kejadian ini terjadi berulang-ulang, bahkan setiap harinya tugas rumah yang diberikan guruku dikerjakan oleh kakakku. Alasan yang tepat karena aku sama sekali tidak mengerti, hah… pelajaran anak SD saja sudah sesulit ini, bagaimana nanti aku SMP, SMA dan kuliah ya ?

Beberapa tahun kemudian aku beranjak remaja. Sekarang aku sudah SMP kelas tiga. Tuntutan belajar semakin besar, semakin sulit, semakin memuakkan ! aku sudah muak dengan belajar yang seperti ini. Tidak hanya sekolah yang menuntut agar aku bisa jadi anak yang pintar, tapi apa yang aku rasakan juga dirasakan oleh teman-teman sebayaku. Kami dituntut agar lulus UN, UAS, bla..bla..blaa.. kami dituntut agar bisa masuk sekolah menengah atas RSBI, SBI dan bla…blaa…blaaa. Kami dituntut agar jadi anak yang bisa berprestasi, dan waktu kami hanya tersisa untuk les, belajar, les dan belajar lagi. Sungguh aku sudah terlalu muak dengan sistem yang seperti ini. Ini yang membuat aku menjadi jenuh belajar, sehingga hal yang sering aku lakukan adalah mencontek. Haha.. aku tertawa lebar karena setiap ulangan dan mengerjakan tugas aku selalu mencontek, dan aku dijuluki si ratu contek. Aku bangga dengan julukan itu, tapi yang membuat aku lebih bangga aku memegang juara umum di sekolah ini, aku hebat kan ?

Seiring berjalannya waktu aku lulus SMP dan kini duduk di bangku sekolah menengah atas atau SMA RSBI di kotaku. Sekolah dengan kualitas sangat bagus. Semua serba elite dan mewah, sesuai dengan tuntutan biaya yang mahal. Kami dituntut agar bisa berbahasa inggris dengan baik, lagi-lagi aku tertawa karena hal ini. Bicara bahasa Indonesia dengan baik dan benar saja belum oke, tapi sudah keburu dituntut untuk berbahasa Inggris yang oke ?

Aku semakin tidak mengerti dengan kurikulum yang terus bergonta-ganti, seperti hari-hariku yang terus berganti, dan sekarang aku pun sudah hampir lulus SMA. Kegiatan setiap hari hanya di sekolah sampai sore hari, belajar belajar dan belajar lagi. Setelah pulang sekolah, istirahat sebentar di rumah, lalu malam harinya berangkat ke bimbingan belajar, les les les tuntutan agar bisa masuk perguruan tinggi negeri, tuntutan agar lulus dengan nilai yang memuaskan, sampai aku ini hampir mau mati. Kenapa tidak ? tiap hari hanya pegang buku dan buku, angka dan angka… aku sudah muak dengan semua ini !

Ujian Nasional sudah didepan mataku, kami semua berdoa agar lulus 100 persen. Belajar sudah maksimal, les sudah terlalu maksimal, kalaupun tidak lulus ini sama saja kutukan dari Tuhan. Haha.. aku tertawa terbahak-bahak.

Malam datang seiring dengan kegalauan, jam sudah menunjukkan pukul 12 lewat. Tut….tut…tut…. handphone ku bergetar, aku membaca satu pesan masuk.

(keluar kami lagi didepan rumah kamu) pesan itu dari salah satu teman di kelasku, Rian si cebol kelas. Anak nya gilak, suka teriak-teriak nggak jelas, dan jarang mandi. Aku bingung dengan maksud pesan ini, tanpa banyak berpikir aku langsung membuka pintu rumah dan melihat mereka dibalik pagar rumahku. Aku semakin bertanya-tanya, lalu aku menghampiri mereka.

“Ini… pokoknya jangan sampai ketahuan, pinter-pinter ya sob” ucap Rian sambil memberikan kertas kecil kepadaku.  Mereka langsung pulang dan aku bingung dengan semua ini. Pelan-pelan kubuka kertas ini dan ??? semua nya adalah kunci jawaban untuk besok sesuai dengan paket ujianku. Kerjaan siapa kalau tidak kerjaan sekolah, semua ini membuatku semakin tertawa.

Ujian Nasional berlangsung khidmat dan sukses, semua siswa-siswi sudah memegang kunci jawaban masing-masing sesuai dengan paket masing-masing. Ini adalah potret sekolah ku, dan bukan hanya sekolahku tapi beberapa sekolah di daerah ini. Lalu ??? apa gunanya belajar sungguh-sungguh selama ini ? apa gunanya les dan fokus untuk UN dan UAS ??? teman ku bilang semua sudah disusun rapi-rapi oleh pihak sekolah dan lembaga pendidikan setempat. Haha… gila ! negeri ini sudah gila teman. Hanya karena tuntutan agar nama baik sekolah tetap baik, agar lembaga pendidikan mendapat skor naik atas kelulusan ? ini semua memang sudah tidak masuk diakal, negeri ini sudah terlalu alay dan konyol.

Menghitung hari menunggu detik-detik kelulusan, akhirnya pun tiba saat dimana kami tunggu-tunggu. Kami lulus 100 persen teman, dan hari ini kami tidak diizinkan untuk corat-coret seperti sekolah lainnya, kami dituntut untuk memakai baju batik dan formal. Jika kami ketahuan konfoi dan coret-coretan kami tidak diizinkan minta tanda-tangan dan stempel izazah, ini sungguh tidak asik ! hanya karena tuntutan agar nama sekolah kami tetap baik, agar kami tetap dikenal anak yang tidak melakukan onar dijalanan, ditempat-tempat umum dan lain-lain.

Semua sudah berjalan begitu saja, hingga aku sekarang duduk di perguruan tinggi. Semua ini tambah lebih gila, dosenku baru-baru ini ketahuan memakai izazah palsu. Hahaha… aku semakin bertanya kepada semua ini teman, bagaimana mau menjadikan mahasiswa yang cerdas, kritis dan bertanggung jawab, sedangkan perangai dosen masih dipertanyakan ? izazah bukan tempat bermain peran, hingga kini beliau di tahan dijeruji besi.

Dosen-dosen bergelut dengan pemimpin-pemimpin yang juga biasa memakai ijazah palsu, dimana keadilan dinegeri ini. Aku semakin malu melihat banyaknya pengangguran yang tamatan sarjana S1. Banyaknya sarjana yang hanya bekerja tidak sesuai dengan pekerjaan seharusnya, apa yang salah dengan semua ini ? Aku berdiri sambil membaca sebuah Koran yang isinya, pengangguran ledakkan negeri. Aku malu membaca semua ini teman. Buat apa kuliah kalau hanya jadi pengangguran ? sistem yang mana harus negeri ini perbaiki. Memang dari awal sudah alay dan konyol, dan kini negeri ini yang malu sendiri.

Bertahun-tahun waktu berjalan seperti biasa, aku terduduk dibawah kursi ini sambil melihat orang-orang bolak-balik. Sesekali aku tertawa, lalu diam, dan tertawa lagi. Aku menimati hari-hari ini. Menikmati pemberitaan negeri kita yang semakin konyol, yang hanya menuntut tanpa melihat keadaan. Aku menikmati hari-hari disini, melihat pemberitaan sarjana membanjiri kota-kota hingga ke pelosok desa, sarjana-sarjana yang butuh pekerjaan teman. Aku semakin tertawa melihat kejadian-kejadian semua ini, dan sesekali aku terdiam dan menangis.

Teman, disini aku sangat menikmati hari-hariku. Menulis, membaca dan berkarya. Aku bisa memotret apa yang terjadi di sekelilingku, apa yang terjadi pada teman-temanku disini. Yah… kami semua adalah korban kealayan negeri ini ! setidaknya kami tidak lagi pusing-pusing untuk mencari pekerjaan yang tidak membutuhkan kami.

Lagi-lagi aku tertawa sambil melihat orang-orang yang mondar-mandir di sekelilingku, dokter datang dan menghampiriku, mengajariku banyak hal. Aku tersenyum lebar dengan apa yang terjadi pada negeri ini, dan aku bukan orang gila. Aku tidak gila teman

. “Aku tidak gila kan dok?” tanyaku pada dokter cantik ini, dan dia hanya tersenyum kepadaku. “Kamu tidak gila” katanya.