Setiap tahun bangsa Indonesia memperingati hari pendidikan nasional (Hardiknas) dengan berbagai tema, namun sampai sekarang dunia pendidikan Indonesia itu rasanya belum banyak berubah. Bahkan terkesan kualitas pendidikan Indonesia justru semakin merosot dari sebelumnya, konon salah satunya disebabkan oleh rendahnya kualitas sarana dan prasarana pendidikan itu sendiri.

Memang secara kuantitas dunia pendidikan Indonesia berkembang pesat, meskipun tidak di ikuti oleh kualitas yang di harapkan. Hal ini bisa di sebabakan oleh berbagai faktor yang terkait dengan proses rekruitmen guru yang terkesan masih terkontaminasi KKN yang semankin menggurita, sehingga sangat sulit untuk dipangkas sampai ke akar-akarnya secara tuntas.

Selain itu meskipun pemerintah sudah mengkampanyekan wajib belajar disatu sisi, akan tetapi disisi lainnya justru kontra produktif dengan apa yang dikampanyekan pemerintah sebagai akses makin mahalnya biaya pendidikan tersebut. Dalam konteks ini seakan-akan pendidikan hanya bagi keluarga kaya saja karena hanya mereka yang bisa menjangkaunya.

Apalagi pemerintah kelihatannya kurang ketat dalam pengawasan terhadap berbagai sekolah yang konon gratis karena sudah didanai oleh pemerintah, tetapi dilapangan hal itu kurang efektif bahkan sekolah-sekolah yang semestinya gratis masih juga dipungut berbagai dana dari para orang tua siswa.

Jika ditanyakan kepada guru bisa dipastikan mereka akan menyalahkan terlambatnya pencairan dana bantuan pemerintah yang selalu menghambat operasional sekolah, sehingga untuk menutupinya mereka perlu sumbangan dana dari masyarakat atau keluarga dari rombongan belajar tersebut.

Memang hal itu benar adanya, apalagi sekiranya terjadi pada sekolah-sekolah swasta, keterlambatan pencairan dana dari pemerintah sangat menghambat operasional sekolah. Lembaga-lembaga pendidikan swasta tentunya sangat membutuhkan dana tersebut untuk membayar honor guru, dan dana operasional sekolah lainnya. Keluhan-keluhan semacam itu sering terjadi dan tereus terjadi selama kinerja pemerintah itu masih monoton seperti sekarang ini.

Selain itu banyak diantara guru-guru melakukan KBM-nya tidak sesuai dengan kompetensinya ,seiring dengan tidak meratanya penyebaran guru disetiap daerah. Kebanyakan guru-guru menginginkan bertugas di kota-kota, dan enggan bertugas di daerah terpencil. Aplagi sekarang sebagian guru itu terdiri dari ibu-ibu guru yang dengan dalih ikut suaminya maka ketidak merataan pendistribuan guru semakin nyata.

Sementara pemerintah sangat ngotot atas terselenggara UN dengan dalih untuk mengetahui dan memetakan kualitas pendidikan nasional disatu sisi. tetapi disisi lainnya terdaapat ketidak merataan sarana dan prasarana pendidikan yang berdampak kepada terhadap ketidak meratanya kualitas pendidikan Indonesia. Nah karena potret pendidikan Indonesia masih buram, perbedaan kwalitasnya seirama dengan topografi kepulauan Indonesia, semakin terpencil dan jauh dari pulau jawa maka semakin redahlah kualitas pendidikannya.

Untuk itu pemerintah perlu segera menekan biaya pendidikan serendah-rendahnya supaya terjangkau oleh keluarga miskin Indonesia yang kelihatannya semakin meningkat, sehingga tidak akan muncul kemiskinan yang sifatnya struktural. Dan hanya yang kaya yang mendapat pendidikan yang baik, sementara yang miskin hanya bisa mengenyam pendidikan yang kurang baik, bahkan terkesan sangat buruk.

Pemerintah juga perlu mengawasi secara ketat terhadap BOS, BOMM dan bantuan lainnya sehingga bantuan-bantuan tersebut bisa mencapai targetnya secara efektif dan efisien. Karena disinyalir dana-dana tersebut seringkali disalah gunakan oleh oknum pihak sekolah sebagai pemegang rekening sekolah dengan kerjasama pihak atasanya, untuk kepentingan mereka sendiri.

Semoga keterpurukan pendidikan negeri ini bisa secepatnya teratasi dengan sikap dan ketegasan pemerintah, kami selaku rakyat jelata tidak bisa menuntut banyak, karena tuntutan kami ini tak mungkin di dengar oleh anda wahai pemimpin negeri ini, ingat hukum tuhan dan hukum alam menanti anda, jangan sia-siakan kepercayaan kami yang telah memilih anda sebagai penguasa negeri ini, kami sudah muak dengan janji dan bualan anda.